Tampilkan postingan dengan label vakansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vakansi. Tampilkan semua postingan




Tiga dekade lalu tak banyak orang memasang mata pada bebatuan di Pulau Kasiruta. Salah satu wilayah Kesultanan Bacan ini tak ubahnya pulau-pulau lain di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Mayoritas warga berprofesi sebagai petani dan nelayan. Jarang terdengar profesi penambang, penggosok, dan penjual batu bacan seperti yang saat ini lumrah dijumpai. Kilauan mineral bernama ilmiah Krisokola itu masih tertimbun dalam tanah dan gunung batu.


Pamor batu bacan mulai tersingkap sekitar tahun 1990. Dilansir dari Indonesian Gemstone, pada masa itu batu bacan hanyalah komoditas barter masyarkat untuk mendapatkan sembako. Namun hal itu mulai berubah ketika seorang turis asal Singapura membeli 10 kilogram batu bacan super dengan harga sekitar Rp7 juta. Padahal, saat ini batu bacan super bisa melampaui harga Rp50 juta per kilogramnya. Harga yang tinggi tersebut sejalan dengan melonjaknya permintaan para penggemar batu bacan, baik skala nasional maupun internasional.


Nama batu bacan semakin melejit ketika Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, mengunjungi Indonesia pada tahun 2010 silam. Presiden Republik Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, memberikan cendera mata berupa batu bacan hijau kepada Obama. Berkat momen itulah animo publik terhadap batu bacan kian bermunculan. Perkembangan tersebut ditandai dengan merebaknya komunitas hobi, kontes, pameran, serta kios-kios yang membuka jasa pembuatan dan penjualan perhiasan batu bacan.


H. C. Einfalt dan H. Sujatmiko dalam tulisan berjudul “Chrysocolla quartz from the Bacan Archipelago, South Halmahera Regency, North Maluku Province, Indonesia” yang dimuat The Journal of Gemmology Volume 30/No.3-4/2006, menerangkan bahwa batu bacan memiliki warna khas dan tingkat kekerasan yang baik dari proses pembentukan alami. Hal itu memungkinkan batu bacan untuk diolah menjadi berbagai bentuk perhiasan. Sementara itu, situs Gemstone Dictionary menganggap batu jenis ini mengandung energi untuk menimbulkan ketenangan jiwa, kestabilan emosi, dan perasaan bahagia bagi pemakainya.


Dua buah cincin batu bacan super. 

Banyak alasan yang membuat orang-orang rela membayar harga tinggi untuk mendapatkan batu bacan. Rizal Hamzah, pelaku usaha batu bacan, mengatakan bahwa batu ini merupakan “batu hidup” yang sangat digemari. Dikatakan hidup sebab warna yang dimiliki batu bacan dapat berubah seiring waktu dan kondisi lingkungan sekitar. Selain itu, tekstur dan serat batu bacan setelah mengalami pengolahan intensif sangatlah indah dan menarik pandangan. Kini batu bacan telah menjadi primadona Halmahera Selatan yang begitu tersohor. Ketika mendengar Pulau Bacan, sebagian besar orang akan mengaitkannya dengan batu bacan.


Batu bacan memang sering dipajang di toko batu mulia dan pameran ternama. Namun siapa sangka, ternyata proses penambangannya tidak semudah yang dibayangkan. Setidaknya ada tiga pihak yang bekerja sama menjadi satu kelompok dalam proses pencarian ini, yaitu penambang, penunjang, dan tuan tanah. Mereka memiliki fungsinya masing-masing. Penambang adalah garda terdepan yang telah memahami cara menggali lubang dan menemukan urat batu. Penunjang bertugas menyediakan seluruh kebutuhan dalam proses penambangan. Sedangkan tuan tanah adalah mereka yang memiliki lahan tempat pencarian batu dilakukan. Kelak, jika mendapatkan hasil tambang, maka ketiga pihak ini mendapatkan keuntungan yang dibagi sesuai kesepakatan bersama.


Jenis batu bacan

Banyak orang mengira bahwa batu bacan berasal dari Pulau Bacan karena namanya yang serupa. Namun, batu ini justru berasal dari Pulau Kasiruta yang berjarak 3 jam perjalanan laut dari Labuha, Ibu Kota Kabupaten Halmahera Selatan yang terletak di Pulau Bacan. Nama batu diambil dari Kesultanan Bacan yang wilayah kekuasaannya lebih luas daripada Pulau Bacan itu sendiri. Batu bacan diperoleh dari dua desa yang tersohor di Pulau Kasiruta, yakni Desa Doko dan Desa Palamea. Keduanya pun menjadi nama jenis batu bacan.


Lokasi penambangan di Desa Doko menghasilkan dua jenis turunan, yaitu bacan doko gulao dan bacan doko majiko. Keduanya dibedakan dari letak tambang yang terpisah sejauh 10 kilometer. Doko gulao berada di dekat bibir pantai, sementara doko majiko berada di lokasi yang lebih ke dalam. Batu bacan doko mayoritas berwarna kehijauan. Tidak tampak begitu banyak perbedaan antara bacan doko gulao dan bacan doko majiko.


Sementara itu, penambangan di Desa Palamea juga menghasilkan dua jenis turunan, yakni bacan palamea waringin dan bacan palamea kawasi. Seluruh batu bacan palamea berwarna kebiruan. Orang lokal menyebutnya dengan biru relaxa. Sejatinya, jika dibandingkan pada tingkatan kualitas super, warna batu bacan doko dan bacan palamea akan sulit dibedakan. Batu bacan juga memiliki warna lain seperti cokelat dan putih, tetapi warna yang begitu digemari adalah hijau dan biru.


Batu bacan siap jual. Harga bervariasi mulai dari Rp2 juta - Rp7 juta.


Bertahan sepanjang zaman

Batu bacan telah melewati masa-masa yang begitu dinamis. Pamornya berfluktuasi seiring tingkat permintaan pasar dan pasokan para penambang. Ada kalanya ia dihargai sangat tinggi seperti saat seseorang warga Taiwan menebus sebongkah batu bacan seharga Rp1,5 miliar untuk dibawa pulang ke negaranya. Ada pula saat para pengusaha batu bacan kesulitan mendapat pelanggan—bahkan untuk menjual satu cincin saja. Namun transformasi batu bacan dari waktu ke waktu tetap menjadi sesuatu yang layak diingat dan dirawat.


Saat ini, menurut Rizal, pasar batu bacan memang tidak seramai sebelumnya. Para penambang pun mulai berkurang karena berbagai alasan. “Sekarang agak sulit untuk mendapatkan batu bacan. Biaya logistiknya semakin mahal, sementara cadangan batunya juga semakin berkurang,” ujarnya. Namun, ia tidak merasa khawatir. Menurutnya akan selalu ada penghobi yang mencari batu ini meskipun jumlahnya sedikit. “Seperti itulah dunia hobi. Saya pun menjalani usaha ini karena hobi.”


Batu bacan dikenal sejak bentuknya yang hanya sebatas bongkahan, hingga kini ketika orang-orang berkreasi dan membuatnya menjadi berbagai jenis perhiasan: cincin, liontin, anting, hingga giok yang ditempel pada patung-patung bernilai seni tinggi. Pesona batu bacan akan tetap memukau meskipun tidak banyak lagi yang membicarakannya di kedai kopi, pangkalan ojek, gedung perkantoran, ataupun situs jual beli online. Ia akan terus berkilau sebagai khazanah Kesultanan Bacan yang tak lekang ditelan zaman.


(ARA, 2021)

*Dilarang menggunakan teks dan foto tanpa seizin pemilik blog.







Suara ayam bersahutan memecah keheningan pagi. Sinar matahari pun masih tampak samar di ufuk timur. Di antara suasana tenang itu, terlihat Saera La Gapu dan keluarganya telah siap memulai hari. Keranjang bambu, caping, dan karung-karung sudah tersedia. Kuncup cengkih di bukit belakang desa yang mulai mewangi pun tengah menunggu untuk dipetik.

Musim panen cengkih sedang berlangsung di Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Panen tahunan ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh warga desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Kali ini, panen dimulai sejak bulan Desember 2019 dan diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2020. Sungguh menjadi bulan-bulan yang sibuk bagi warga Desa Soligi.

Cengkih merupakan primadona Indonesia yang tersohor ke berbagai penjuru dunia. Dahulu, ketika bangsa Portugis membawa cengkih asal Maluku ke Benua Eropa sekitar abad ke-15, komoditas ini begitu digandrungi. Kemasyhuran cengkih merebak dengan cepat. Seiring waktu, semakin banyak pihak yang ingin mendapatkan produk tanaman bernama nama lain Syzgium aromaticum ini.

Manfaat yang ditawarkan cengkih beragam. Cengkih dapat digunakan sebagai rempah pelengkap kuliner, sebagai bahan rokok kretek karena aromanya yang khas, serta sebagai obat herbal untuk penyakit tertentu. Menurut Sudarmo dalam buku berjudul Pestisida Nabati, Pembuatan dan Pemanfaatannya, daun cengkih kering yang ditumbuk halus dapat digunakan sebagai pestisida nabati dan efektif mengendalikan penyakit busuk batang fusarium, dengan memberikan 50-100 gram daun cengkih kering per tanaman.


Berbudi daya cengkih adalah sebuah tradisi yang dilakukan secara turun-temurun di Desa Soligi. Saera merupakan salah satu orang yang melestarikannya. “Saya memanen cengkih dan mengolahnya sejak tahun 70-an,” ujar Saera. Ketika musim panen tiba, ia senantiasa mengajak anak dan istrinya ke kebun cengkih setiap hari, kecuali hari Jumat karena itulah waktu untuk beristirahat.

Proses pemetikan cengkih


Proses memanen cengkih diawali dengan memilih kuncup yang sudah siap petik. Para pemetik dengan sigap menaiki pohon cengkih dan meraih dahan-dahan dengan tangan kosong. Biasanya yang dipetik adalah kuncup berwarna hijau kekuningan, bukan tangkai yang telah berbunga mekar. Selain tidak sesuai dengan permintaan pasar, bunga cengkih yang mekar itu biasanya digunakan untuk keperluan pembibitan karena menghasilkan polong atau kecambah.

Setelah dipetik, cengkih yang telah terkumpul kemudian dipisahkan dari tangkainya. Warga desa menyebut proses ini dengan istilah “digugur”. Meski demikian, bukan berarti tangkai cengkih itu tidak bisa dimanfaatkan. Warga tetap mengumpulkannya untuk kemudian dijual dengan harga sekitar Rp3.000 per kilogram tangkai kering. Waktu yang biasanya dipilih untuk proses menggugurkan kuncup dari tangkainya ini adalah sore dan malam hari, setelah kegiatan pemetikan di kebun selesai.


Langkah selanjutnya dari rangkaian pengolahan cengkih adalah penjemuran. Cengkih dan tangkainya yang sudah dipisahkan itu dijemur langsung di bawah terik matahari, dari pagi hingga sore. Ketika cuaca panas normal, warga desa biasanya melakukan penjemuran selama tiga hari hingga mencapai kering yang diinginkan. Saat cengkih sudah berwarna coklat kehitaman, itulah tandanya komoditas ini siap dijual. Jumlah cengkih kering yang bisa dihasilkan dari satu pohon selama musim panen tak kurang dari 50 kilogram, tergantung dari kualitas pohon.

Cengkih kering hasil penjemuran


Tumpuan ekonomi

Salah satu keunikan pada musim panen cengkih di Desa Soligi adalah munculnya para pemetik dadakan yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari Ambon, Ternate, Buton, Seram, Madapolo, serta daerah lainnya di Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Pemetik yang jumlahnya mencapai ribuan orang itu sengaja didatangkan oleh para pemilik kebun untuk membantu panen cengkih. Warga lokal menyebut para pemetik itu dengan istilah “karyawan”.

Musim panen cengkih dapat memberdayakan banyak warga desa. Setiap orang, dari anak-anak hingga dewasa, dapat terlibat langsung dalam rangkaian pemrosesan penyediaan cengkih kering ini. Pun bagi para karyawan dari luar daerah, panen cengkih adalah berkah. Menurut Saera, panen cengkih sangat diminati karena mampu menghasilkan rupiah dengan cepat dibandingkan panen kelapa yang prosesnya lebih panjang dan menghabiskan banyak tenaga.


Namun sayang, belakangan ini, harga cengkih sedang mengalami penurunan. Cengkih kering yang biasanya dihargai lebih dari Rp90.000 per kilogram, kini hanya mencapai angka Rp64.000 di Desa Soligi. Itulah sebabnya karyawan yang datang dari berbagai daerah pun tidak sebanyak panen-panen sebelumnya. Padahal, jika sedang ramai, satu pemilik kebun bisa mempekerjakan sekitar 50 orang karyawan.

Pengangkutan cengkih kering menuju pengepul


Cengkih kering dari Desa Soligi dibawa ke kota-kota besar, seperti Ternate dan Ambon, yang mayoritas diperuntukkan sebagai bahan pembuatan rokok. Di sana para pengepul mematok harga Rp70.000 untuk satu kilogram cengkih kering. Adanya selisih harga dari desa itu untuk menutupi biaya pengiriman yang menggunakan moda transportasi laut.

Menurut Saera, fluktuasi harga komoditas cengkih adalah hal wajar. Para pemilik kebun memaklumi bahwa jumlah permintaan dan pasokan tidak selalu berjalan seiringan. Meski demikian, panen cengkih akan tetap menjadi tradisi yang dilestarikan oleh warga desa. 

Saat di mana ribuan kuncup terhampar di halaman, saat semerbak cengkih terhirup sepanjang jalan, saat menggugurkan tangkai dihiasi oborlan hangat dan kebersamaan, saat itulah masa panen yang dirindukan tiba. “Semoga keberkahan yang melimpah selalu hadir pada panen-panen selanjutnya,” tandas Saera.


(A.R.A, 2020)





Dua dekade lalu rumah-rumah di Kedoya, Jakarta Barat, belum sepadat sekarang. Pohon belimbing masih bebas menjatuhkan daun kering dan buah busuknya di mana saja tanpa omelan tetangga. Kandang ayam kampung beserta baunya pun mudah sekali ditemukan. Beberapa ayam jago bahkan sering mampir ke teras rumah bibiku. Mereka datang tanpa salam dan pergi begitu saja dengan kotok berserakan.

Suatu sore aku kesal dengan ayam-ayam tersebut. Tak puas dengan hanya mengusirnya, aku nekat mengejar sekumpulan ayam panik itu sampai masuk ke dalam kandang. Mereka tersudut. Beberapa meringkuk tak berdaya di pojok kandang seperti pengecut. Mungkin inilah alasan mengapa seorang penakut juga disebut chicken dalam bahasa Inggris.

Kejayaanku itu ternyata tak bertahan lama. Sesak mulai terasa dalam dada. Berat sekali rasanya untuk sekadar menghela napas. Sampai pada akhirnya suara batuk yang bertubi-tubi memanggil ibuku untuk datang menjemput dalam kandang. Aku tak ingat bagaimana reaksinya ketika melihatku. Hal yang kuingat adalah saat aku terbaring terbaring di rumah sakit dengan slang dan tabung oksigen. Penyakit asmaku kambuh.


Sejak saat itu aku semakin menghindari hal-hal yang bisa membuat asmaku kian parah. Aku tak bisa menginap di kandang ayam, menghirup dalam-dalam keset masjid, mendaki Jayawijaya bertelanjang dada, juga tak boleh berutang es mambo di warung bu haji dan meminumnya setelah imsak. Sesak napas itu sungguh menyebalkan.


Pengalaman asma di kandang ayam itu sedikit membuatku trauma. Karena, tahukah kau bagaimana rasanya asma itu? Bukan, rasanya tidak sama seperti kau yang pura-pura bahagia padahal hati terluka. Memang sama-sama membuat sesak, tapi, asma lebih nyata rasanya. Apalagi bila ditambah batuk, pilek, demam dan sakit kepala. Bila sedang akut terkadang aku ingin menjadi dispenser saja.


Kekesalan terhadap kandang ayam ternyata memudar perlahan. Itu bermula sejak guruku di pesantren dulu memberi sebuah nasihat. “Harus selalu diingat, bahwa hal yang tidak kita sukai belum tentu buruk bagi kita. Begitu pula sebaliknya,” ujarnya pada sebuah pengajian kitab kuning beraksara gundul. Jangan kau tanyakan bisa atau tidaknya aku membaca kitab tersebut, karena aku dengan mudah dapat menafsirkan kitab itu kata demi kata. Aku pakai versi terjemahan.


Nasihat itu benar adanya. Pada 10 September 2018, aku berkesempatan terbang ke Prancis untuk meliput kandang ayam dalam rangkaian acara SPACE 2018, sebuah pameran peternakan bergengsi. Hal yang dulu kubenci ternyata mampu membuatku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Benua Biru.


Menyambangi peternakan khas Brittany


Sebelumnya aku ingin meminta maaf bila ingar-bingar SPACE 2018 tak kuceritakan di sini. Segala hal menarik tentang pameran itu sudah kutulis pada Laporan Khusus majalah Poultry Indonesia dan dimuat dalam dua edisi. Justru pada tulisan di blog inilah hendak kuceritakan sebagian kisah yang tak mungkin tertuang dalam majalah tersebut.


Satu dari sekian hal yang ingin kuceritakan adalah pengalaman unik ketika menyambangi peternakan khas Brittany, sebuah region di barat laut negara Prancis. Kegiatanku memang tidak semata-mata dihabiskan di Rennes—pusat pemerintahan Brittany sekaligus tuan rumah SPACE. Aku bersyukur bisa mengikuti program Farm Visit yang disediakan oleh penyelenggara pameran. Kegiatan ini memungkinkanku untuk menjelajah perdesaan dan melihat langsung genetik terbaik peternakan khas Brittany.


Sebetulnya ada beberapa opsi Farm Visit yang bisa kupilih, antara lain peternakan sapi berkonsep robotik, peternakan broiler pemasok daging restoran cepat saji, bahkan bisa pula mengunjungi sektor industri sarana produksi ternak seperti pabrik pakan berteknologi tinggi. Setelah melakukan beberapa pertimbangan, akhirnya aku memilih mengunjungi peternakan layer di daerah Henleè bernama Earl Breizh Deufs.

Sepasang suami istri yang belum pernah lawan arus di jalan layang casablanca

Senyum tampak rekah di wajah Urien David dan Urien Myriam. Sepasang suami istri pemilik Earl Breizh Deufs itu sudah menanti para peserta kunjungan tepat di depan kandang layer bersistem closed house. Standar sanitasi yang diterapkan oleh David ternyata cukup ketat. Oleh karena itu, sebelum memasuki kandang, peserta harus terlebih dahulu mencuci tangan, mengenakan pelapis sepatu, hair cap dan juga wearpack yang telah disediakan.

Setibanya di dalam kandang bersistem closed house itu, aku kok minder ya? Kandang layer pakai AC, kamarku tidak. Kandang layer punya tempat tidur bertingkat, kamarku tidak. Kandang layer pakai lantunan musik merdu seharian, kamarku tidak. Pokoknya, itu kandang layer yang sangat keren! Isinya 70.000 ekor dan telurnya banyak.

Jika hasil produksi satu hari diolah menjadi telur dadar, sepertinya bisa menutupi puncak Monumen Nasional (Monas) yang emas itu. Tapi, lebih baik jangan. Karena nanti namanya berubah menjadi Monumen Dadar (Modar). Aku takut dimarahi pemerintah.

Oh ya, sedikit informasi, layer itu sebutan untuk ayam ras petelur, sementara ayam ras pedaging disebut broiler. Maaf kalau aku telat memberi tahu bahwa aku merindukanmu tentang istilah tersebut.

Aku senang bisa mengikuti kunjungan ke kandang yang satu ini. Apalagi diiringi Mbak Nolwenn Possene yang baik hati. Ia adalah teknisi kandang yang banyak menemaniku selama kunjungan. Aku yakin dia nyaman berbicara kepadaku dan menganggapku sebagai pendengar yang baik. Mengapa? Karena dia berbicara dalam bahasa Prancis! Bagaimana aku bisa membalasnya jika kalimat yang kutahu sebatas bonjour dan merci? Untung saja di sana ada orang Prancis lainnya yang membantuku dengan menerjemahkan perkataan Nolwenn.

Nolwenn Possene, perempuan tangguh sang teknisi kandang

Setelah puas menjelajah kandang layer bersistem closed house, kami kemudian diajak melihat kandang ayam bersistem cage free, atau sebagian orang menyebutnya free range. Ini dia yang kutunggu!


Letak kandang ini tak begitu jauh. Pada peternakan cage free, terdapat sekitar 6.000 layer di lahan seluas 3 hektare. Ayam-ayam bebas bergerak dan melakukan kegiatan yang tak bisa dilakukan di kandang baterai, misalnya bertengger, berlarian, merasakan terpaan sinar matahari, main Instagram, menggosipkan majikan hingga berteduh di bawah pohon sambil menikmati kesejukan yang dibawa angin. 


Peternakan layer berkonsep cage free mengutamakan produksi secara naluriah. Ayam-ayam dapat beraktivitas secara leluasa dan kembali ke sebuah bangunan kandang tempat mereka beristirahat ataupun bertelur.

Menurut David, telur dari peternakan yang mengutamakan animal welfare ini cukup diminati oleh masyarakat Prancis dan Eropa pada umumnya. Kandungan gizi telur diyakini lebih berkualitas karena dihasilkan dari “ayam-ayam yang bahagia”. 

Meski demikian konsep cage free bukanlah tanpa hambatan. Sering kali ditemukan cedera pada kaki ayam karena terlalu sering mengais. Ekstremnya, ada pula kematian yang disebabkan kanibalisme antar ayam. “Belum lagi ancaman rubah yang siap memangsa,” imbuh David. Kondisi peternakan cage free yang sangat terbuka juga memungkinkan penyebaran penyakit. Untungnya, menurut David, kondisi peternakan Prancis bebas dari penyakit menular pada unggas semisal Avian Influenza.

Berbeda dengan peternakan layer sebelumnya, David mempersilakan para peserta untuk masuk dan mengambil gambar sesuka hati— karena suatu alasan, para peserta tak boleh memotret di kandang sistem closed house. Terlihat bagaimana ayam-ayam dapat saling bersinggungan tanpa batas sedikit pun. David mengaku tak kerepotan untuk memunguti telur di luar kandang. Ayam-ayam telah terbiasa bertelur di tempat yang telah tersedia sehingga memudahkan David dalam proses pengumpulan telur.

Waktu pemberian pakan dan minum pun sejatinya tak jauh berbeda dengan layer konvensional, hanya porsinya saja yang disesuaikan. Hal yang membuat David bertahan dengan pola budi daya ini adalah keyakinannya bahwa akan semakin banyak orang yang berminat mengonsumsi telur cage free meskipun harganya lebih mahal. Saat ini, bila mengacu pada harga rata-rata telur cage free internasional, selusin telur cage free dijual US$ 1 lebih mahal ketimbang telur konvensional pada jumlah yang sama. 


Ayam-ayam yang sedang malas keluar padahal di dalam bau tahinya sendiri

Suatu waktu, Benjamin Ruiz, rekan jurnalis asal Spanyol, bertanya kepadaku tentang kondisi peternakan ayam di Indonesia. Dengan percaya diri aku menjawab bahwa peternakan cage free yang sedang menjadi tren di Eropa ini sesungguhnya ketinggalan zaman bila dibandingkan peternakan Indonesia. “Serius? Kok bisa?” tanya Ruiz. Tentu saja, karena sebelum Eropa beralih dari closed house canggih ke konsep cage free, Indonesia sudah sejak dahulu kala menerapkan peternakan cage free yang disebut angon.

“Karena hanya segelintir saja peternak Indonesia yang punya duit untuk membuat closed house. Sisanya masih opened house untuk layer dan broiler. Karena itu pula cage free di Indonesia tetap langgeng. Bahkan, kau dapat dengan mudah menemukan ayam lokal yang berkeliaran di perkampungan ataupun bebek di persawahan,” ujarku tersenyum. Ia pun tertawa mengerti akan maksudku.


Sulit memang untuk menerapkan sistem cage free pada layer di Indonesia. Negeriku tercinta ini sangat rentan terhadap penyebaran penyakit karena beriklim tropis. Berbeda dengan negara-negara Eropa yang telah terbebas dari ragam penyakit unggas. Sudah mending sih ayam-ayam di Indonesia masih mau bertelur. Kalau aku jadi ayam dan mendengar isu politik yang murahan di Indonesia, tak sudilah aku bertelur dan memberi makan para politikus bangsat itu. Astagrifullah. Maafkan aku teman-teman.


Ingin pulang kampung


Aku banyak berbincang dengan beberapa pengunjung Farm Visit. Ternyata, sebagian dari mereka memiliki usaha peternakan di negaranya masing-masing. Minna-Riitta Ketokulta misalnya, pengunjung asal Finlandia itu ingin mengetahui lebih jauh perkembangan industri unggas di Prancis. Ia ingin menerapkan segala inovasi yang didapatnya ketika pulang nanti.


Minna dan beberapa orang yang kujumpai memandang bahwa usaha peternakan semakin digandrungi. Bahkan, pada pameran SPACE 2018, banyak sekali anak muda yang ikut serta di dalamnya. Animo masyarakat Rennes, dan Prancis pada umumnya, memang besar terhadap sektor agrobisnis. Itulah mengapa beragam inovasi dan produk terbaik terus lahir dari Negeri Mode ini.


Aku berpikir, jika di negara maju saja usaha peternakan terus melejit, apalagi di negara berkembang seperti Indonesia yang peluang tumbuhnya lebih besar. Aku membayangkan betapa indahnya kembali ke kampung halaman, membuka usaha peternakan, serta memberdayakan sumber daya desa, baik alam maupun manusianya. Aku banyak belajar dari Earl Breizh Deufs bahwa usaha peternakan bukan sebatas bisnis sampingan. Usaha peternakan adalah motor penggerak ekonomi desa; membangun ketahanan pangan nasional dari pinggiran.

Pulang kampung juga mengingatkanku pada penyakit asma yang kualami dulu. Kampung tempat aku tinggal setelah hijrah dari Jakarta benar-benar menjadi obat mujarab. Kegiatanku sebagai anak kampung ternyata mampu mengatasi persoalan sesak napas itu. 


Serunya berenang di sungai tanpa busana, main layang-layang dan merusak antena orang, berlarian sepulang mengaji karena takut dicolek setan, mencuri kelapa dan membaca basmalah sebelum meminumnya, ternyata sungguh ampuh dalam memperkuat daya tahan tubuh. Olahraga dan memacu adrenalin adalah kombinasi yang asyik. Aku ingin berterima kasih kepada kampungku karena berkatnya pula aku bisa sampai ke Earl Breizh Deufs dan mendapat cita-cita ini.

Suatu saat nanti aku ingin kembali ke sana, ke rumah masa kecilku, Sukabumi. Senang sekali membayangkan hari-hari tanpa polusi udara, tanpa kemacetan jalanan dan tanpa isu-isu panas Ibu Kota. Sepertinya menyenangkan kelak aku memulai pagi dengan surat kabar dan secangkir teh hangat. Di hadapanku tersaji pemandangan Gunung Walat yang berkabut. 


Setelah itu aku menuju kandang bersama teman-teman pekerja, dan ketika siang menjelang aku pergi ke tempat kulinerku yang bahan pangannya berasal dari kandang sendiri. Ah, sungguh mimpi siang bolong di teriknya Henleè saat itu.

Tersadar aku sedang dalam kegiatan meliput, kusimpan dulu khayalan itu untuk nanti aku teruskan—dan tentu aku upayakan wujudnya. Untuk saat ini aku cukup bahagia dengan profesi yang kujalani. Karena sebuah hobi yang dibayar adalah sesuatu yang patut disyukuri, bukan? 


Namun telah kutekadkan bahwa suatu hari nanti aku ingin seperti David: memberdayakan potensi daerahnya, menyuplai kebutuhan pangan masyarakat, kaya raya, dan tentu menjalani bisnisnya dengan yakin dan bahagia. Tak kalah penting, aku juga ingin seperti David, memiliki seorang pendamping yang setia menguatkan di setiap langkah.




Kemajuan suatu negeri dapat tercermin dari terjaganya kualitas dan kuantitas pangan. Taiwan, melalui sebuah pameran peternakan dan pertanian, mampu menunjukkan bahwa alam yang mereka miliki adalah harta berharga yang terus dikembangkan bagi seluruh warganya. 

Suara tetabuhan alat musik tradisional menggema di Nangang Exhibition Center. Empat orang penabuh gendang beserta seorang peniup seruling mampu membuka Livestock Taiwan Expo dengan meriah. Gerak tarian dan suara nyaring yang dihasilkan sukses mengisi seluruh ruangan dengan rasa semangat dan kebanggaan. Orang-orang bertepuk tangan. Pameran perdana dan terbesar di sektor agrobisnis Taiwan itu pun baru saja dimulai.

Pagi itu, Kamis, 28 September 2017, kerumunan sudah mulai terbentuk di luar gerbang gedung pameran. Sementara di dalam, orang-orang bersetelan rapi tengah berkumpul di ruang utama tempat pembukaan acara. Banyak tokoh penting di sana. Para elite perusahaan berbaur dengan hangat bersama para petinggi perwakilan pemerintah. Kemeriahan pun kembali pecah tatkala tali pita, simbol kerja sama berbagai pihak, digunting bersama sebagai tanda dimulainya pameran secara resmi. Pengunjung yang berkerumun di luar pun lambat laun memenuhi seisi gedung. Mereka terlihat antusias melihat perkembangan terbaru industri peternakan dan peternakan Taiwan.

Ada pemandangan menarik di sana. Sekumpulan orang berpakaian sangat sederhana berjajar teratur bersama seorang pemandu. Mereka adalah orang-orang dari desa yang juga antusias melihat bermacam inovasi dalam pameran. Livestock Taiwan Expo ini memang bukan hanya ditujukan bagi kalangan pebisnis kelas atas, namun juga menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Mereka yang datang dari berbagai daerah di Taiwan menyadari betul bahwa acara ini menjadi sebuah peluang peningkatan mutu peternakan dan juga pertanian. Mereka tak ingin tertinggal.

Sejak melangkahkan kaki pertama kali ke dalam pameran, suasana megah dan futuristis langsung terasa. Mata pengunjung disuguhi pemandangan ratusan stan dengan daya tariknya masing-masing. Bahkan, beberapa stan memiliki ukuran yang sangat besar jika dibandingkan dengan stan lainnya. Macam-macam perusahaan bersaing menarik minat pengunjung. Tidak hanya itu, pihak asosiasi pun tak ingin kalah. Terdapat banyak lembaga nonprofit yang juga ikut serta di dalamnya. Meski tidak menjual sebuah produk, mereka konsisten dalam menawarkan program dan inovasi yang turut memberi andil bagi perkembangan industri pertanian dan peternakan di Taiwan.

Pengunjung melihat stan di Nangang Exhibition Center
Arena Nangang Exhibition Center yang luas itu dibagi ke dalam beberapa porsi. Pada kesempatan ini, tiga tema pameran pun dipisahkan. Meski dalam gedung yang sama, pengunjung dapat membedakan jenis pameran pertanian, perikanan, dan juga peternakan nonperikanan seperti sapi ataupun unggas. Variasi pameran itu ampuh untuk menarik ribuan pengunjung per hari untuk memenuhi rasa penasaran mereka. Di bidang peternakan misalnya, pengunjung dapat lebih mengetahui sejauh mana perkembangan di sektor genetik, kesehatan hewan, pakan, peralatan kandang, mesin pengolah daging, hingga servis lainnya yang mampu menjadi nilai tambah di bisnis ini. Kebutuhan informasi dari hulu sampai ke hilir tersaji secara proporsional.

Perusahaan yang terlibat di dalamnya pun sudah tentu beragam. Mereka datang dari berbagai negara dengan beragam persiapan. Lican Alimentos misalnya, perusahaan asal Chile itu juga turut ambil bagian. Perusahaan yang bergerak di bidang imbuhan pakan tersebut merasa optimis unjuk gigi di pameran yang perdana ini. Atau, perusahaan lokal seperti Nice Garden. Inovasinya begitu digandrungi oleh para pengunjung. Jarang sekali stan milik mereka terlihat sepi. Selalu ada orang-orang yang menghampiri, entah untuk membeli, ataupun hanya mencari sekian informasi. Semakin ramai sebuah stan dikerumuni, semakin terlihat pula kredibilitas yang terbentuk di hadapan pengunjung. Meski baru pertama kali digelar, antusiasme pengunjung serta respons baik exhibitor dalam pameran ini begitu kentara.

Industri pertanian berbasis teknologi juga menjadi salah satu sorotan dalam pameran kali ini. Terdapat perusahaan yang dengan yakin menawarkan inovasi mutakhir. Misalnya, GEOSAT Aerospace & Technology Inc. yang mengenalkan produk mereka dengan cara memajang pesawat tanpa awak, atau biasa disebut drone, dengan berbagai bentuk dan jenis. Produk modern itu diyakini dapat menghasilkan komoditas pertanian yang digunakan untuk pakan ternak secara lebih efektif dan efisien. Karena dengan bantuan peralatan canggih yang terkoneksi dengan internet, proses manajemen perawatan dan pemantauan pertanian dapat lebih tersistematis.

Organisator berpengalaman

Melihat sebuah pameran yang apik tentu akan menimbulkan tanya tentang siapa sebenarnya pihak yang ada di belakang layar. Pada Asia Agri-Tech Expo and Forum, yang juga berlangsung di dalamnya Aquaculture Taiwan dan Livestock Taiwan, nama besar UBM patut disorot. Ia merupakan event organizer ternama di dunia, yang saat ini memimpin di berbagai kawasan, terutama di Amerika Serikat dan negara-negara di Asia. Lebih dari 300 kegiatan pameran bisnis diselenggarakan setiap tahun. Perusahaan yang berkantor pusat di London itu pun menawarkan jalinan bisnis yang berkelanjutan bagi para mitranya. Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan, tak heran jika banyak pihak yang memercayakan kegiatan bisnisnya pada UBM, termasuk agenda pertanian dan peternakan di Taiwan kali ini.

Keyakinan atas kualitas UBM ditunjukkan sendiri oleh General Manager UBM Asia Sabine Liu. Saat dijumpai oleh Poultry Indonesia di ruang VIP, ia tampak santai. Padahal, pameran perdananya di sektor agrobisnis Taiwan akan segera dimulai. Ia percaya bahwa seluruh elemen yang diperlukan dalam berjalannya pameran ini sudah siap dan mampu berjalan sesuai rencana. Alih-alih mengurusi teknis pameran, ia justru lebih memilih bercengkerama dengan para jurnalis. Ia terlihat senang menjamu para tamu dengan berbagai hidangan ringan khas Taiwan, dan obrolan hangat pun mengalir dengan sendirinya.

Keluwesan Sabine Liu ternyata sesuai dengan torehan pameran. Dalam tiga hari, acara tersebut mampu menarik pengunjung lebih dari 20.000 orang, baik lokal maupun mancanegara. Total penjualan yang dihasilkan para exhibitor pun berkisar pada angka US$ 17 juta. Kualitas UBM telah teruji pada penyelenggaraan pameran kali ini. Bahkan, banyak perusahaan yang sudah memesan tempat untuk pameran tahun depan. Rencananya, pameran edisi kedua akan digelar di Balai World Trade Center Taipei, pada 26-28 Juli 2018. Berkaca pada penyelenggaraan pertama, Sabine Liu optimis bahwa pameran selanjutnya akan lebih meriah dan mendatangkan peluang bagi banyak pihak.

Kematangan penyelenggara dalam acara ini memang sangat terlihat. Bukan saja sektor substansial seperti fokus Business Matchmaking, namun sisi pendukung juga diperhatikan. Program pameran juga dilengkapi dengan beragam seminar yang penting dan menarik. Selain itu, tersedianya banyak petugas pameran, serta mudahnya akses dalam berbagai hal bagi pengunjung, menjadi sebuah kelebihan yang patut diapresiasi.

Fasilitas food truck sajikan aneka menu dalam pameran
Kenyamanan pengunjung memang sangat diperhatikan. Pada segi ketersediaan fasilitas kuliner misalnya, telah pula disediakan sebuah kantin berbentuk food truck yang bisa dimanfaatkan oleh para pengunjung. Food truck itu didesain dengan tampilan menarik dan menawarkan berbagai macam menu. Pengunjung dapat mencicipi hidangan nikmat seperti Fusion Oven-Fried Chicken and Wafles, New York Style Chicken Over Rice, atau sejenak bersantai dengan menyeruput kopi khas Taiwan. Di sekitaran gedung pameran juga terdapat kantin yang menyediakan beragam menu makanan, sehingga para pengunjung tidak perlu repot pergi jauh ketika lapar dan dahaga melanda.

Kota yang representatif

Kemudahan akses untuk mencapai pameran sudah terasa sejak mendarat di Bandara Internasional Taoyuan. Dari sana, telah terdapat berbagai shuttle yang siap mengantarkan pengunjung ke hotel masing-masing. Letak bandara dengan Kota Taipei memang cukup berjauhan. Namun, fasilitas transportasi yang dimiliki Taiwan membuat jarak tersebut bukan sebagai hambatan yang berarti. Media transportasi yang menjadi favorit banyak orang, adalah Airport MRT. Ia cepat, nyaman, dan tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk dapat menggunakannya.

Dari Bandara Internasional Taoyuan, pengunjung bisa menggunakan Airport MRT menuju Taipei Main Station. Lokasi tersebut merupakan titik sentral penyebaran rute dalam penggunaan kereta bawah tanah, atau lumrah disebut Taipei Metro. Bagi pengunjung yang ingin mencapai tempat pameran, cukup menggunakan Taipei Metro satu kali menuju stasiun Taipei Nangang Exhibition Center. Lokasi tersebut dapat ditemukan dengan sederhana melalui tanda Bannan Line yang berwarna biru. Pengunjung bisa memilih dengan apa mereka membayar tiket. Bisa menggunakan uang koin, ataupun dengan membeli kartu terlebih dahulu di loket. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing, dengan cara akses yang mudah dan juga murah.

Pemandangan di salah satu stasiun Taipei Metro
Kondisi jalanan Kota Taipei yang bagus dan rapi juga menjadi kabar baik bagi para pengunjung. Tingkat kemacetan di sana pun tidak terlalu menjadi beban pikiran. Pengunjung dapat nyaman menggunakan bus kota yang memiliki terminal di banyak titik strategis, termasuk di Nangang Exhibition Center. Bus ini juga bisa diakses dengan menggunakan kartu yang dibeli di loket Taipei Metro. Sistem transportasi di Taipei sudah terintegrasi untuk memudahkan para penggunanya. Bahkan, telah pula tersedia fasilitas sepeda gratis bagi orang-orang yang bepergian dalam jarak dekat.

Para pengunjung yang berdatangan dari berbagai daerah di penjuru dunia akan mendapat banyak “bonus” jika menghadiri pameran ini. Bonus tersebut tentu bukan hanya tentang inovasi yang didapat dari gedung pameran, atau hasil manis kerja sama dengan perusahaan mancanegara, melainkan juga berupa rekreasi khas Taiwan. Lokasi pameran memang sangat strategis bagi para pengunjung yang gemar mengeksplorasi wisata kota.

Dari lokasi pameran, terdapat beberapa titik wisata yang menarik untuk dikunjungi. Misalnya, para pengunjung dapat merasakan kemegahan arsitektur khas Taiwan di Chiang Kai-Shek Memorial Hall, melihat keindahan kota dari atas Taipei 101 World Trade Center, menikmati sejuknya perbukitan dengan Maokong Gondola, hingga berwisata kuliner dan membeli beragam oleh-oleh di Shilin Night Market. Seluruh lokasi itu, dan banyak pula lokasi menarik lainnya, dapat ditempuh dengan mudah menggunakan Taipei Metro. Dengan segala fasilitas yang ada, Taiwan layak dikatakan sebagai kota yang ramah pengunjung.

Shilin Market menjadi pilihan favorit untuk wisata kuliner dan belanja oleh-oleh
Livestock Taiwan Expo bukan sebatas pameran berisi ribuan produk. Ia lebih dari itu. Hal yang mampu dibawa pulang oleh para pengunjung bukan hanya tentang kepuasan bisnis, namun juga pengalaman yang menyenangkan dalam lawatannya ke Kota Taipei. Penyelenggaraan pameran tertata rapi. Perfeksi diperhatikan dalam berbagai sisi. Agenda perdana ini mampu menjadi pondasi yang meyakinkan untuk membangun potensi agrobisnis masa depan. Selamat, Taiwan!



(Tulisan ini merupakan ulasan lanjutan dari Laporan Khusus Majalah Poultry Indonesia edisi November 2017)


#Taiwan #Poultry #Livestock #Expo 


Memang tidak banyak kain tenun dan teh hijau di dalam koper. Namun, tangan dan pundakku rasa-rasanya pegal tak keruan. Setelah kulihat sejenak, ternyata ada tanya yang bergelayut, yang sering kali membikin sesak. Tanya itu menjadi oleh-oleh setelah aku bersambang ke Thailand, selama satu pekan, yang kubawa untuk kotaku. Bunyinya: “Kamu tidak bosan begitu melulu?”

Aku tidak mau memaksa siapapun untuk setuju, dalam hal, menjadi jurnalis itu menyenangkan. Karena faktanya, ada yang lebih menyenangkan dari sekadar menjadi seorang jurnalis. Misalnya menjadi pendamping hidup untuk seseorang yang didamba, atau, menjadi salah satu penghuni surga. Itu sangat menyenangkan. 

Tapi, menjadi jurnalis juga. Sebuah profesi yang jika dijalankan dengan benar, akan mendapat imbalan bahagia tiada tara, di dunia, dan akhirat. Begitulah kira-kira.

Jenis kesenangan yang didapat seorang jurnalis, salah satunya, adalah jalan-jalan. Sebuah kegiatan yang banyak disuka orang. Apalagi jika mendapat kesempatan meliput acara di negeri seberang. Medio Maret lalu, aku disuruh demikian oleh atasan. Sebagai jurnalis yang kadang dibuat jenuh oleh Ibu Kota, aku mau saja. 

Thailand adalah negara yang harus aku sambangi. Karena, di negara yang sudah mengalahkan Indonesia di Final AFF 2016 itu, akan digelar sebuah pameran peternakan terbesar se-Asia. Oleh yang membuatnya, pameran tersebut diberi nama VIV Asia 2017. Pihak panitia menjadikan mediaku sebagai salah satu media partner dalam pameran yang digelar dua tahun sekali. Bangkok adalah kota yang ditunjuk sebagai tuan rumah tahun ini.

Kesan pertama yang kudapat saat menginjakkan kaki di negerinya Mario Maurer itu, adalah suka cita. Padahal, seharusnya biasa saja. Mungkin karena selera humorku saja yang receh. Setiap mendengar warga sana berbicara dengan intonasinya yang khas, aku terkekeh. Entah mengapa. 

Mungkin, Selama di Indonesia, aku terlalu banyak menonton film Thailand bergenre humor, seperi Suckseed, ATM: Er Rak Error, hingga Hello Stranger. Aku memiliki firasat bahwa Thailand adalah negeri yang bersahabat.

Tapi lambat laun kelucuan itu berubah menjadi sebuah kekaguman. Bandara Suvarnabhumi yang megah tersaji di depan mata. Segala sisi nyaris dirangkai secara otomatis untuk melayani siapa saja yang hilir-mudik di dalamnya. Agaknya, Thailand memang serius dalam menghadapi persaingan global, termasuk sektor pariwisata. Mereka berada pada langkah yang tepat dengan menjadikan bandara sebagai gerbang yang meyakinkan, sarat dengan prestise. 

Tak heran jika Negeri Gajah Putih mampu menjadi magnet bagi 32 juta wisatawan selama 2016 lalu. Berbeda jauh jika dibandingkan dengan Indonesia, yang hanya mencapai angka 11,5 juta wisatawan. Padahal, aku berani bertaruh, jika potensi wisata yang dimiliki Indonesia jauh lebih baik.

Salah satu andalan dari bandara yang terletak di Bangkok itu, adalah tersedianya Airport Link, atau kereta yang menghubungkan bandara dengan jantung kota. Fasilitas itu sangat membantu bagi orang-orang yang mencari transportasi cepat dan nyaman. Harga tiketnya pun cukup murah. Jika dirupiahkan, biaya yang harus dibayar untuk menaiki kereta tersebut berkisar antara Rp 6.000-18.000, tergantung jarak yang ditempuh. 

Saat itu, aku menggunakan Airport Link untuk mencapai stasiun Phaya Thai, karena menjadi stasiun transit untuk kemudian berganti kereta, menggunakan Bangkok Mass Transit System (BTS), juga masyhur dengan nama skytrain.  

BTS merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Bangkok. Mode transportasi yang belum dimiliki Kota Jakarta itu, memang keren. Jika dibandingkan dengan Commuter Line, kereta andalan orang Jakarta, BTS boleh jadi sedikit jemawa. Mengapa? Karena begini: BTS sudah hampir melakukan otomatisasi di berbagai sektornya. Tenaga para petugas pun tidak banyak terkuras. 

Selain itu, jumlah kereta yang banyak dan datang tepat waktu, adalah kesenangan bagi orang-orang di saat jam sibuk. Aku yang sering merasakan serangan terbuka dari ketiak orang di Commuter Line, ketika menaiki BTS, bisa bernapas lega. Desain gerbong yang futuristis, waktu tempuh yang tepat, ongkos yang murah, dan, perempuan Thailand yang manis-manis, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Berbicara mengenai warga Bangkok, sepertinya, kalau dilihat-lihat, mereka lebih cuek dibandingkan warga Indonesia. Misal, dalam hal penampilan, mereka lebih bebas berekspresi, tanpa takut stigma ini-itu. Maka tak heran jika Bangkok kemudian menjadi salah satu pusat mode di Asia. Jika berjalan-jalan di Emporium Mall, atau juga sederet pusat perbelanjaan di daerah Siam, rasanya, sudah seperti berada di sebuah fashion show. 

Tak hanya itu, aku melihat berbagai sudut Kota Bangkok memiliki daya tarik bagi wisatawan. Sampai pasar sederhana yang berisi pedagang kaki lima saja, bisa dipadati para bule yang entah mencari apa. Mungkin benar kata seorang jurnalis yang kukenal di Bangkok. Dia bilang, bahwa pemerintah setempat pintar dalam segi promosi. Mereka benar-benar serius dalam mengembangkan sektor wisata.

Tapi, siapa kira, kalau orang-orang Bangkok ternyata cukup ramah. Mereka tidak menutup diri terhadap para pendatang. Pun dalam soal beragama. Sejauh yang kulihat, mereka tidak anti terhadap agama minoritas, seperti Islam. Buktinya, muslim di sana bebas mengumandangkan adzan. Bahkan, masjid sudah mulai tersebar, meski tidak terlalu banyak. Salah satu masjid yang terkenal adalah Masjid Jawa. Sebuah masjid dari tanah wakaf seorang perantau dari Jawa, yang berdiri sekitar tahun 1906. 

Setidaknya, Bangkok sudah berupaya menjadi kota toleran bagi para pemeluk agama. Orang-orang muslim yang sedikit itu, mereka pun solid, guyub, harmonis. Meski kutahu, di beberapa daerah lain di Thailand, persoalan agama masih menjadi isu sensitif.

Oh, hampir kulupa. Tadinya aku ingin berbagi mengenai pameran yang kuliput. Jadi begini, VIV Asia 2017 itu, hanya membuat iri saja, aku, sebagai orang Indonesia. Bagaimana tidak, inovasi mutakhir di bidang peternakan, seluruhnya tumpah-ruah di Bangkok International Trade and Exhebition Centre (BITEC). Orang-orang dari berbagai penjuru dunia berdatangan. Dengan percaya diri, Bangkok siap menjamu para inovator itu, dengan asyik dan meyakinkan. Jadinya, para pengunjung pun dibuat nyaman.

Secara langsung, Thailand mendapat keuntungan atas terselenggaranya acara tersebut. Dari pameran yang berlangsung selama tiga hari itu, ternyata, mencatatkan kunjungan yang fantastis, dengan nilai transaksi yang sangat besar. Panitia memperkirakan, bahwa nilai transaksi di VIV Asia 2017 mencapai lima triliun rupiah. Suatu jumlah yang layak, mengingat adanya 1.057 perusahaan dari 55 negara yang berpartisipasi di dalamnya. Thailand mendapat keuntungan berlipat, baik secara materi maupun nonmateri.

Thailand pun mendapat label sebagai negara yang merangkak maju, dengan sisi pertanian dan peternakannya yang mulai mapan. Di waktu yang sama, kudengar, negeriku tercinta, sedang dibikin panas oleh peternak rakyat kontra para kapitalis yang memainkan sektor broiler dan layer. Atau, dugaan peyelewengan Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang belum reda, serta, kenaikan harga sayur-mayur yang sama sekali tak lucu.

Daripada dibuat resah oleh perasaan iri itu, aku pun punya ide. Lebih baik aku perbanyak main saja. Prinsipku saat itu: perpendek liputan, perpanjang jalan-jalan. Jatah waktu satu minggu untuk liputan, aku padatkan menjadi dua hari. Sisanya, apa lagi kalau bukan main? Maafkan aku wahai atasan. Tapi tugasku sudah selesai, mohon biarkan diri yang suka jalan-jalan ini untuk menyapa ramahnya Bangkok.

Menekur pada arus Chao Phraya

Banyak tempat yang kusinggahi di Bangkok. Melihat bagaimana tata ruang kota, arsitektur khas Thailand, menjelajah pasar tradisional, hingga mampir ke Istana Raja. Ada perasaan sedih saat menyambangi Grand Palace. Di sana, nampak ratusan orang berpakaian hitam, berjajar rapi dengan raut duka. Mereka adalah warga yang begitu mencintai mendiang Sang Raja Bhumibol Adulyadej, sosok kharismatik yang wafat pada Oktober 2016 lalu. 

Hingga tulisan ini dibuat, jasadnya masih ada, dan tak henti didatangi para pelayat. Sangat mengharukan bagaimana melihat warga Thailand yang begitu mencintai rajanya. Lalu, apa hal yang sama akan terjadi pada warga Indonesia, jika pemimpinnya meninggalkan mereka?

Selain istana, banyak lagi tempat yang kusinggahi. Aku hampiri patung Budha raksasa yang sedang leyeh-leyeh di Wat Pho, merasakan megahnya situs Wat Arun, menikmati pertunjukan kabaret di Asiatique Riverfront, mengapung di pasar sampan Dumnoen Saduak, menjumpai tokoh-tokoh dunia di Madame Tussauds, membeli sepatu kulit di pasar Chatuchak, hingga melewati gemerlapnya Patpong oleh bisnis hiburan malam. Ya, hanya lewat, tidak macam-macam.

Namun, tempat favoritku selama berada di sana, adalah sungai Chao Phraya. Sebuah sungai yang membelah Kota Bangkok, mengalir dan membawa harapan orang-orang yang berada di atas riamnya. Tempat bagi mereka yang ingin mengilhami sebuah perjalanan. Aku, termasuk di dalamnya. 

Malam terakhirku di Bangkok sengaja kuhabiskan dengan sebuah dinner cruise di atas kapal White Orchid. Dari sana kulihat lampu-lampu temaram di pinggiran sungai, dan jembatan kota yang menggantung indah menyala dengan warna lembut. Alunan musik klasik saat itu membangunkan memori dan perasaan rindu. Juga, banyak hal yang terserap secara alami selama perjalanan yang aku lakukan.

Bangkok telah membuka mataku lebih lebar, tentang apa yang harus aku dan kotaku tuju. Membangun kota, perlu lebih dulu dimulai dari membangun manusia. Tidak mudah menjadi Bangkok yang sudah maju di berbagai sisi. 

Tapi, tiada hasil yang mengkhianati upaya. Piramida dan Tembok Cina yang megah itu, pasti pula dimulai dengan sebuah bongkahan kecil. Kotaku, pasti bisa menjadi besar, menjadi rumah yang nyaman bagi orang-orang yang berlindung di dalamnya.

Sementara, angin, arus, dingin, malam, dan cahaya lampu-lampu itu, berbisik padaku, untuk segera pulang, kembali pada dirinya, yang sudah menanti, dengan senyum dan doa.

-----
Bangkok, Maret 2017