Tampilkan postingan dengan label memorabilia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memorabilia. Tampilkan semua postingan


Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. Banyak kata yang mengarah padanya: keras, sibuk, sesak, obsesi, bahagia, harapan dan lain-lain yang lahir dari imajinasi setiap kepala. Bagi orang yang belum pernah menjamahnya, Jakarta sering kali dianggap sebagai kota utopis tempat di mana semua cita-cita terwujud. Namun nyatanya tak sedikit orang digilas pilu setelah menjajal peruntungan di dalam hiruk pikuknya. Jakarta, seperti para perantau bilang, adalah kota bengis yang punya rayu teramat manis.

Banyak juga yang bilang bahwa Jakarta menawarkan peluang bagi siapa saja yang ingin tumbuh dan berkembang. Aku termasuk orang yang membenarkan anggapan tersebut. Oleh sebab itu pula aku memutuskan kembali ke Jakarta, kota masa kecilku, setelah sekian lama berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya. Aku kembali sebagai seorang pekerja profesional.
Tahun demi tahun kulewati. Satu per satu harapan yang kutempel di dinding kamar dahulu telah terwujud di kota ini. Namun harga yang ditebus juga sebanding. Ada kemacetan jalan yang harus diarungi, ada desak dan sesak di transportasi umum yang harus kumaklumi, belum lagi kualitas udara yang semakin buruk dengan berbagai polusi. Banyak hal yang membuat hidup di Jakarta begitu melelahkan, tetapi banyak pula alasan yang membuatku harus tetap bertahan.
Seiring waktu berlalu di kota besar ini, sampailah aku pada satu titik jenuh. Sebuah momen yang menyadarkanku bahwa hidup hanya sekali dan patut dirayakan dengan tantangan baru. Aku ingin memiliki lebih banyak pengalaman untuk dikenang suatu hari nanti. Pada titik jenuh itu, terlintas satire Seno Gumira Ajidarma dalam Menjadi Tua di Jakarta yang pernah sepintas kubaca:
“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”
Sejujurnya pekerjaanku selama di Jakarta tidaklah membosankan—malah bisa disebut menyenangkan karena bisa bepergian ke berbagai tempat baru dan belajar banyak hal. Kejenuhan justru lahir dari suasana kota yang semakin sumpek oleh manusia dan kendaraan yang kian banyak, panas dan polusi udara yang kian merepotkan, serta menjamurnya para pemabuk politik yang intoleran dan gemar melakukan politisasi agama sehingga membuat kota ini semakin gerah. Benar-benar gerah.
Kejenuhan yang terakumulasi dari berbagai hal itu telah meyakinkanku untuk mengambil sebuah keputusan: pindah ke luar daerah yang sama sekali baru bagiku.
Keputusan ini bukanlah tanpa risiko. Pindah ke tempat baru berarti harus siap dengan segala hal baru dan meninggalkan kebiasaan lama. Aku harus terbiasa menjalani hidup tanpa fasilitas Ibu Kota, tanpa teman-teman lama dan tanpa keluarga. Aku menyadari hal tersebut dan telah kupertimbangkan secara matang. Namun, tetap saja pertanyaan yang lahir dari “rayuan manis Ibu Kota” menohok diriku sebelum perjalanan pergi:
“Kenapa pindah? Padahal di Jakarta kan enak, fasilitas lengkap, gaji lumayan, jabatan juga strategis. Sayang sekali.”
“Orang-orang ingin ke Jakarta, ini malah pindah ke pulau kecil dan jauh. Apa tidak dipikir ulang?”
“Yakin mau lepas karier yang sudah dibangun dari nol? Yakin tidak akan menyesal?”
Aku memahami cara berpikir mereka. Namun seyogianya mereka juga mengerti bahwa standar kenyamanan setiap orang tidak melulu sama. Bagiku, kenyamanan adalah kebahagiaan yang bisa diraih meski dari hal-hal sederahana. Mereka juga mesti tahu bahwa aku merupakan sosok rasionalis, seperti yang mereka tunjukkan. Keputusanku untuk pindah juga didasari oleh pertimbangan yang masuk akal versi kepalaku. Namun apakah seorang rasionalis tidak berhak mengikuti kata hatinya?
Kuakui dengan sepenuh hati, aku mencintai Jakarta. Aku cinta keluargaku di sana, teman-temanku, commuter line, kantor lama, jajanan Tebet, Persija dan banyak lagi yang lain. Jakarta telah menjadi rumah ketigaku setelah Sukabumi dan Bandung. Namun, segala kecintaan itu tak bisa menghalangiku untuk terus berkembang dan menikmati hal-hal baru.
Sebelum usai tulisanku, perlu ditegaskan, aku tidak sepenuhnya setuju dengan ucapan Seno. Kupikir tidak semua orang yang bekerja di Jakarta itu menyedihkan, tidak pula patut dikasihani. Banyak orang yang memang bekerja sesuai selera dan keahliannya. Namun kemalangan yang digambarkan Seno juga harus diakui adanya meski kita tidak bisa memukul rata para pekerja di Jakarta dengan satire tersebut. Kesuraman yang digambarkan itu adalah sebagian risiko yang harus dihadapi dalam melanjutkan hidup di Jakarta. 
Namun, perlu juga kutegaskan, aku tidak sedikit pun bergeming atas berbagai pertanyaan dan penilaian orang-orang yang seolah tahu betul jalan hidupku. Pertanyaan mereka yang terkesan menyayangkan keputusanku hanya akan masuk melalui telinga kanan dan keluar begitu saja melalui telinga kiri; tidak akan sampai ke hati dan mengubah tekad bulat yang kadung terbentuk.
Aku salut dengan para pekerja di Jakarta. Aku salut dengan bapakku yang belasan tahun menerjang jalanan keras kota ini dan menghirup segala polusinya demi keluarga di rumah. Aku juga salut dengan orang-orang yang menolak menyerah dan bermandikan peluh di Jakarta demi diri dan keluarganya. Selama pekerjaan itu halal, tiada yang salah dengan mengadu nasib di Jakarta.
Aku hanya tidak mengerti dengan orang-orang yang menganggap bahwa seluruh kebahagiaan dapat ditemukan di Jakarta. Mereka pun seolah-olah menjadikan Jakarta sebagai barometer kesuksesan seseorang. Jika hal ini dianggap lumrah, maka banyak orang akan menutup mata terhadap peluang yang ada di berbagai daerah. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi akan menjadi timpang karena sentralisasi.
Aku termasuk bersama orang-orang yang memilih tantangan baru dan keluar dari bungkus glorifikasi Ibu Kota. Sebab di mana pun berkiprah, bukankah etos kerja yang akan membawa kita pada kesuksesan? Aku tidak mau termasuk ke dalam golongan para perantau yang berduyun-duyun datang ke Jakarta, memenuhi jalan dan transportasi umum, kemudian mengeluh “Kenapa Jakarta sesak sekali? Kerja pemerintah apa kalau begini?”
Aku jadi berpikir, jika semua orang ingin ke Jakarta, lalu siapa yang akan mengolah potensi daerah? Oleh karena itu, marilah mencari kebahagiaan kita masing-masing. Terserah apakah kita akan menikmati “rayuan Ibu Kota” atau mencari rayu-rayu yang lain di suatu tempat, yang jelas, ikutilah kata hati bukan ucapan orang yang bahkan sama sekali tak mengerti pandangan hidup kita.
Lalu, kembali ke Jakarta? Itu pasti. Entah hanya singgah sesaat, entah mewujudkan salah satu mimpi yang dulu pernah kubuat.

Adam R.A.
Ternate, 18 Juni 2019




Nama besar itu kudengar pada 2009. Tahun ketika seragam putih-biru berubah menjadi putih-abu. Beberapa sanak sering kali bercerita tentang adanya sosok karismatik yang jadi panutan banyak orang. Ia dikagumi bukan hanya karena berasal dari garis keturunan para pemimpin hebat, namun sebab ilmunya pula yang terpancar dan mencerahkan. Ia adalah kiai yang kelak tak jemu kukejar demi sekian judul berita. Ialah Deddy Ismatullah.

Segala hal di pesantren Syamsul Ulum, Sukabumi, adalah suatu yang baru buatku. Teman beragam suku, kitab kuning, asrama bertingkat, antre makan dan mandi, hingga misteri hilangnya sandal jepit baru yang nanti kembali lagi dengan bentuk tak keruan. Namun dibandingkan dengan semua itu, hal yang tiada kusesali dalam hidup adalah bertemu dan menggali ilmu dari guru-guru hebat. Sejak langkah pertamaku di pesantren dulu, aku merasa sebagai musafir di gurun tandus yang haus dan sekarat. Guru-guru terhomat itulah kutemukan serupa oase.

Interaksi pertamaku dengan Deddy Ismatullah terjadi di suatu sore, di selasar masjid pesantren. Kulihat sosok pria berwibawa yang selama ini hanya kudengar namanya saja. Ketika ia melangkah memasuki masjid, kucium tangannya sambil berkata, “Pak, sendalnya apa perlu saya simpan di rak?”

Senyumnya agak merekah. Sambil berlalu, ia bilang “Sendal aing mah dijagaan ku malaikat, Jang.”

Kalimat itu sungguh menyengat. Kekagetan tak hilang dalam beberapa menit. Namun kalimat itulah yang kemudian menjadi awal bagiku untuk lebih jauh mengenalnya. Aku si santri ingusan semakin memupuk tanya tentang siapa sebenarnya sosok kiai yang satu ini.

Momen bertemu dengannya tidaklah mudah. Sesekali aku hanya melihatnya di upacara sekolah sebagai pembina, ataupun di mimbar masjid sebagai khatib. Kelas pengajian bersamanya pun belum bisa kuikuti sebab tingkatanku barulah pemula. Rasa penasaranku kian menjadi ketika para senior sering kali bercerita tentang pengalaman mengikuti pengajian bersama Prof. Deddy, begitu mereka biasa menyebutnya. Bahkan seorang santri pernah diminta memaca kitab, dan ketika tak mampu, Deddy Ismatullah berkata “Ah, sia mah eleh ku ucing aing di imah!

Lama-lama aku memaklumi mengapa gaya bahasa yang kerap digunakan Deddy Ismatullah terkesan arogan. Bila melihat siapa sesungguhnya ia, kurasa, yang dilakukannya itu wajar-wajar saja. Ia merupakan pemimpin pesantren dengan seluas ilmu agama yang dimilikinya; ia adalah guru besar di berbagai perguruan tinggi dengan ilmu hukum yang mentereng; ia pun keluarga utama dari pahlawan rakyat Sukabumi, K.H. Ahmad Sanusi, sang pejuang bangsa dan agama. Ragam penghormatan telah diberikan kepada Deddy Imatullah. Ia adalah representasi sosok cendekiawan Muslim dan negarawan yang cemerlang.

Meski sulit mengikuti kelas pengajian bersama Deddy Ismatullah, aku terus menggali ilmu dari ragam pemikirannya di berbagai media. Aku pun memiliki kesempatan untuk lebih sering bertemu dengannya ketika salah satu guru memberiku tugas. Ustad Syaefulloh, seorang guru tahfidz terbaik, memberiku amanat sebagai koordinator pengisi khatmil quran rutin di rumah Deddy Ismatullah. Hal itu tentu menjadi kesempatan untuk bisa mengenal sang profesor lebih dekat.

Sejak saat itulah aku lebih sering berjumpa dengan Deddy Ismatullah: berbincang ringan dan disertai candaan khasnya, melihat wajahnya yang tegas dan berwibawa, serta mengenal keluarganya yang juga cerdas dan berbakat. Aku bersyukur bisa mendapat berbagai nasihat darinya. Ia bukan hanya seorang kiai bagiku. Ia adalah sosok pemimpin yang ideal.

Kondisi menjadi agak berbeda dua tahun kemudian. Meski aku sudah memasuki tingkatan pengajian kelas menengah, kesempatan bertemu dengan Deddy Ismatullah justru semakin sempit. Ia lebih sering menghabiskan hari-harinya sebagai rektor di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung. Sebagai santri, aku dan lainnya tentu senang kiai kami dapat memimpin sebuah perguruan tinggi ternama. Sebagai santri pula, kami menyayangkan kesempatan mengaji langsung dengan Deddy Ismatullah menjadi sangat terbatas.

Setahun berselang. Takdir membawaku menjadi seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung. Aku adalah satu dari sekian ribu mahasiswa baru yang dipimpin oleh Deddy Ismatullah. Ya, ialah kiai kebanggaan santri Syamsul Ulum Sukabumi. Di kampus inilah aku kembali mendapat kesempatan untuk bertemu dan berbincang bersamanya. Aku benar-benar bersyukur.

Menjadi mahasiswa jurusan Jurnalistik kian memantik minatku dalam dunia reportase. Pada tahun kedua perkuliahan, aku bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suaka UIN SGD Bandung. Aku menikmati segala aktivitas di sini. Mendapat teman dan pengalaman baru adalah suatu kenikmatan yang tak mungkin terdustakan. LPM Suaka adalah rumah baru tempatku bernaung. Ia lebih dari sekadar organisasi. Ialah sebuah rumah yang akan kulindungi dan kubela dari segala ketimpangan.

Sayang beribu sayang. Pada bulan-bulan yang berlalu, pada beratus gagasan isu, terbawalah aku pada satu nama yang harus kukejar dalam peliknya kasus pembangunan kampus. Nama itu milik guruku: Deddy Ismatullah. Ia adalah narasumber kunci atas pusaran desas-desus yang berembus di UIN SGD Bandung berbulan lamanya. Beberapa waktu lalu, Ia terjerat isu penyalahgunaan biaya pembangunan kampus. Ia diduga bertanggung jawab atas hal itu, sehingga diberhentikan dari jabatan rektor sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Agama.

Aku ibarat kucing liar yang terpojok di jalan buntu. Isu yang kuhadapi menjelma sebagai anjing gila yang siap menerkam. Bimbang adalah mimpi siang malam. Di waktu yang bersamaan, aku harus memilih jalanku sebagai jurnalis sejati, atau sebagai santri yang berbakti. Sesaat lamanya aku lebih memilih diam dan tidur dengan pikiran melayang-layang.

Kebenaran adalah pegangan

Adam adalah sebuah nama dengan arti pria pertama dalam sejarah semesta. Maka sudah seyogianya seorang pria dihadapkan pada pilihan-pilihan dan menentukan jalan hidupnya. Dalam perihal ini, aku memosisikan diri sebagai jurnalis. Masa bodoh dengan statusku sebagai santri. Siapa saja yang bersifat bengis hari ini, ia adalah musuhku. Dengan cara apa pun aku harus membawanya ke arah yang benar sesuai norma-norma berlaku.

Namun, di balik keputusan itu, ada hal yang kuyakini dengan pasti: kebenaran adalah mutlak. Ia akan tetap benar meski tertimbun jutaan dusta, muslihat dan kepura-puraan dalam bentuk apa pun. Hati kecilku meyakini bahwa Deddy Ismatullah tetaplah sosok yang kukenal dulu. Seorang tokoh yang ikhlas dan amanah dalam menjalankan tanggung jawabnya. Akan tetapi, keyakinan itu perlulah dibuktikan secara gamblang, jelas dan teliti. Untuk itulah proses jurnalisme dibutuhkan.

Kopi dan suntuk tarik-menarik setiap malam. Saat itu pula rangka peliputan terus kumatangkan. Sederet kendala datang berganti. Meliput kasus ini tidak semudah membuat berita online dengan judul sampah yang berharap datangnya kunjungan membludak. Laporan yang kususun adalah tulisan mendalam dengan perspektif ragam narasumber, dikerjakan secara tim, dan ditempuh dengan waktu yang tidak sebentar. Taruhannya adalah satu: harga diri LPM Suaka.

Pada waktu-waktu yang terlewat, celah terang mulai terlihat. Titik beku perjumpaan dengan Deddy Ismatullah akhirnya cair. Dengan ragam upaya, akhirnya aku bisa bertatap mata dengan mantan rektorku ini. Momen perjumpaan dengan Deddy adalah kunci laporan yang aku dan rekan redaksi susun selama berminggu-minggu. Aku berdoa agar profesiku saat itu selalu diberkati Allah, sehingga tak melahirkan sedikit pun noda yang mencoreng.

Kulihat binar mata Deddy Ismatullah yang meredup. Rautnya lesu. Badannya agak mengurus dibanding terakhir kali kulihat. Dengan suara berat dan pelan dia berkata “Saya dikriminalisasi. Semua tuduhan itu tidak benar. Ada pihak yang tidak suka dengan saya.”

Dalam hati aku merintih. Tak kuasa melihat kiai yang kuhormati berada dalam posisi seperti ini. Namun logikaku saat itu bersuara lebih keras daripada gumaman dalam batin. Logika ini menuntunku untuk terus bertanya terkait kasus yang menimpa Deddy Ismatullah. Setajam apa pun pertanyaannya.

“Lalu mengapa Bapak diam saja selama ini? Saya jarang sekali melihat Bapak berbicara di depan umum, memberi klarifikasi, atau membela hak-hak Bapak pribadi. Isu yang beredar di luar sudah teramat liar, Pak,” ujarku.

Ia menatapku lurus. Sesaat kurasa ia lebih memandangku sebagai jurnalis seutuhnya. Mungkin saja ia tak menemukanku sebagai santri barang sedikit saja. Namun aku tak peduli. Bisa jadi, ia pun tak menyadari betapa aku ingin membuktikan bahwa semua tuduhan kepadanya adalah sebuah kesalahan. Namun, tetap, pembuktianku haruslah berdasar pada fakta-fakta yang riil dan bukan opini buta.

“Saya tak ingin memperkeruh suasana. Saya akan buktikan ini di PTUN. Saya akan bawa masalah ini dan selesaikan di sana,” jelasnya secara yakin.

Pertemuan itu sungguh melibatkan emosi bagiku. Pertemuan dari sekian lama penantian yang akhirnya pecah di pondok pesantrenku sendiri. Bukan kampus, bukan Bandung. Pada akhirnya aku bertemu dengan Deddy Ismatullah di selasar masjid, di tempat pertama kali aku bertemu dengannya.

Sekitar dua puluh menit aku berbincang dengannya. Tanya yang menggantung di kepalaku sedikit demi sedikit berjatuhan. Kudapat jawaban yang selama ini kucari. Aku pun bisa kembali ke kampus dengan membopong kabar yang kemudian akan tertuang pada halaman-halaman majalah LPM Suaka.

Laporan yang disusun tim redaksi usailah sudah. Bercetak-cetak majalah tersebar. Sehimpun data yang kami cari akhirnya tersimpul pada sebuah arah: Deddy Ismatullah tidak bisa disalahkan begitu saja. Ternyata, beberapa waktu kemudian, Deddy Ismatullah memenangkan gugatan. Namun ia tak ingin kembali menjabat. Ia justru kembali ke Gunung Puyuh, menjadi pengayom bagi para santri yang membutuhkannya.

Ujung waktu

September 2016. Dari sekian ribu orang yang memakai toga, akulah salah satunya. Masa pendidikan di UIN SGD Bandung berakhir dalam ragam suka dan duka. Tiada Deddy Ismatullah sebagaimana pertama aku menyandang status mahasiswa di kampus ini. Bilapun ada, aku tak tahu akan berkata apa kala berjumpa. Mungkin, yang kulakukan hanyalah mencium tangannya selayaknya seorang santri yang mengharap berkah.

Pada sebuah magrib di bulan puasa, adalah saat terakhir aku berjumpa dengan Deddy Ismatullah. Rumah kediamannya terasa begitu hangat. Aku bersama Wali Kota Sukabumi Mohamad Muraz dan guruku terhormat Drs. H. Mustafa Kamal, beserta tamu undangan lainnya, berbincang akrab dengan Deddy Ismatullah. Wajahnya terlihat begitu berseri. Sangat berbeda ketimbang saat kulakukan wawancara bersamanya dulu.

Aku memang tak banyak berjumpa dengan Deddy Ismatullah di ruang pengajian. Aku justru banyak berinteraksi dengannya di ruang yang sarat dengan aroma politis. Bagaimanapun, perjumpaan dengannya selalu berkesan dan memberi pelajaran baru dalam hidup. Ia adalah sosok yang menginspirasi, bahkan dalam diamnya sekalipun.

Terhitung sejak lulus kuliah, aku banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Guruku Deddy Ismatullah kudengar lebih sering berada di pesantren untuk melanjutkan kepemimpinan semenjak ditinggal almarhum K.H. Maman Abdurrahman. Kurasa pesantren sedang memiliki masa sulit. Namun dengan kembalinya Deddy Ismatullah sebagai pengayom, kuyakin semua akan pulih dengan segera.

Jumat, 6 Juli 2018. Deddy Ismatullah berpulang. Sebuah kabar di pagi hari yang menohok dada dalam-dalam. Menghujam bilik-bilik memori tempat di mana wajah dan segala bayang tentangnya tersimpan. Sementara, aku belumlah sempat meminta maaf secara sungguh-sungguh atas segala hal yang pernah kubuat. Semua terasa begitu cepat. Tuan waktu tak sudi menunggu.

Padahal, masih banyak yang ingin kusampaikan padanya. Tentang wacana lari pagi yang tak sampai, tentang mendiami rumahnya di Bandung yang tak terlaksana, tentang ingin kuungkapkan bahwa aku dan dirinya adalah keluarga dalam silsilah yang sama.

Pak, sungguh, aku ingin mencium tanganmu sekali lagi.


Halo, selamat jam segini. Sebelumnya, saya ingin bilang, kalau tulisan yang dibuat ini bukan untuk mendapatkan Penghargaan Nobel. Bukan juga sebagai pengalihan isu supaya masyarakat tidak nonton “Katakan Putus” di Trans TV. Meski jujur, sebetulnya saya ingin dengan lantang mengatakan acara itu norak, tapi khawatir para penggemarnya malah membenci saya, itu juga kalau punya. Ceritanya, tulisan ini adalah salah satu bentuk empati saya kepada seorang seniman pantomim. Ini tentang Wanggi. 

Sebelumnya, saya ingin mengenalkan sosok Wanggi terlebih dahulu. Biar kita sama-sama kenal, siapa tahu nanti sama-sama cocok. Wanggi, yang punya nama lengkap Wanggi Hoediyatno, biasa juga dipanggil Wanggihoed, adalah seorang laki-laki. Pernah lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada 24 Mei 1988. Waktu kecil suka jajan sembarangan dan main kejar-kejaran sama temannya. Sudah besar suka dituduh sembarangan dan kejar-kejaran sama pengintainya. 

Wanggi sudah menyenangi seni pantomim sejak dalam pikiran. Konkretnya, sejak pakai seragam putih-biru. Hasrat memperdalam seni pantomim kemudian mengantarnya menjadi mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Kota Bandung. Selain memperdalam seni pantomim di dunia kampus, Wanggi juga memperluas wawasannya bersama komunitas Mixi Imajimime Theatre Indonesia dan Indonesian Mime Artist Association. Dengan berbagai pengalaman seni pantomim yang dimiliki, kita bisa ambil kesimpulan, bahwa Wanggi bukanlah seorang polwan. 

Pria berperawakan kecil itu punya karir pantomim yang mentereng. Tak terhitung jumlah seniman lokal dan mancanegara yang telah berkolaborasi dengan dia. Pada tahun 2013 silam, Wanggi sempat satu pentas dengan tim sirkus asal Perancis, Chabatz de’entrar. Dia juga pernah melakukan tur ke 8 kota di Indonesia, juga tampil di Timor Leste dan Vietnam. Beberapa waktu lalu, Wanggi pun sempat diundang ke Mata Najwa, tampil di sana, dan bikin senyum-senyum Mbak Najwa Shihab. 

Wanggi adalah orang yang mudah dikenali. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, egonya juga. Ciri khas yang membuat Wanggi gampang diingat adalah kumis yang melintang dan menjadi pembatas antara hidung dan bibirnya. Hidupnya sederhana. Kalau lapar makan, kalau lelah istirahat, bukan bikin status. Kalau resah lawan, kalau bingung diskusi, bukan cari sensasi. Kalau bosan bilang, jangan tiba-tiba hilang, eh, kalau itu sih buat kamu, iya kamu. 

Lalu, dari keahlian pantomim, kepedulian sosial, penolakan atas penindasan, dan kumis, mulailah Wanggi menggerakkan aksi damai setiap hari Kamis di Gedung Sate, Kota Bandung. Saya bilang damai, karena tidak ada bakar ban, coret-coret liar dan perusakan fasilitas seperti para aktivis pergerakan mahasiswa. Aksi tersebut kemudian dikenal dengan Aksi Kamisan Bandung. Sebuah aksi yang sebetulnya sudah dimulai sejak 18 Januari 2007 lalu di depan Istana Presiden, Jakarta. Aksi Kamisan bertujuan merawat ingatan, melawan lupa, dan menuntut pemerintah menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Hadirnya Wanggi membuat Aksi Kamisan Bandung menjadi menarik. Dengan seni pantomimnya, Wanggi menampilkan keresahan, kesedihan dan perlawanan dari para korban pelanggaran HAM. Di depan Gedung Sate, Wanggi bersama peserta Aksi Kamisan Bandung, dengan payung hitam, poster dan spanduk, tak lelah menuntut keadilan bagi para korban. 
Hingga saat ini Aksi Kamisan masih tetap berjalan. Dengan kritik tanpa suara ala Wanggi, orasi berapi-api ala para aktivis, dan pemerintah yang masih saja tuli. 

Agaknya, sekilas pemaparan tadi bisa memberi gambaran tentang sosok Wanggi. Kalau belum jelas, nanti saya kasih nomor telepon, alamat kontrakan dan media sosialnya Wanggi, biar bisa enak berbincang dengan dia. Tapi, kalau nanti mau ketemu dia, bilang saja yang jelas dari mana. Jangan seperti om-om dengan kaus bertulisan “Turn Back Crime” yang sok misterius dan gagal keren. 

Jadi begini, di balik keramahan Wanggi dengan Aksi Kamisan dan kumisnya, dia adalah orang yang sangat sering diincar intelijen dan ormas-ormas kurang piknik. Belum lama ini, saya sempat berbincang dengan Wanggi di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Keperluannya datang ke kampus yang sangat fobia terhadap JIL dan Syi’ah itu, sebagai tamu di acara Lembaga Pers Mahasiswa Suaka. Dia menampilkan kebolehannya berpantomim di sana. 

Saya dan seorang rekan asal Universitas Padjajaran, berbincang ringan dengan Wanggi. Sambil sesekali memilin kumisnya Wanggi bercerita pengalaman kejar-kejaran yang belum lama terjadi. Saat itu, kisah Wanggi, dia baru pulang setelah menghadiri satu acara, dan berniat pulang ke kediamannya. Saat duduk di bus, ada seorang pria—yang saya tidak tahu pria itu punya anak gadis seumuran dengan saya atau tidak—dan memberi senyum kepada Wanggi. Besar kemungkinan itu senyum palsu. 

Baru beberapa menit duduk, Wanggi sudah berkali-kali diserang dengan berbagai pertanyaan basa-basi. Kebanyakan seperti pertanyaan seorang remaja yang kikuk saat pertama kali kencan dengan pacarnya. Setelah sepuluh menit yang membosankan itu berlangsung, akhirnya pria itu mengaku sebagai anggota kepolisian. Sengaja satu bus dengan Wanggi karena ingin menggali beberapa informasi. Setelah mengetahui siapa pria itu, Wanggi memutuskan untuk pura-pura tidur, hingga bus yang dia tumpangi sampai ke tujuan. 

Bukan hanya interogasi dadakan di bus yang pernah Wanggi alami. Pada akhir Maret 2016 lalu, aksi Perayaan Tubuh di Kota Bandung, dengan salah satu pegiatnya adalah Wanggi, dibubarkan paksa oleh polisi. Katanya, karena mengganggu ketertiban umum. Padahal acara tersebut diadakan di ruang publik, tanpa ada warga yang mengatakan keberatannya. Polisi benar-benar secara paksa dan sepihak, membubarkan sebubar-bubarnya acara itu. Bahkan, polisi bilang seperti ini: “Sudah bubar sana! Dasar seniman tidak jelas!” begitu kata polisi. 

Fungsi polisi sebagai pengayom masyarakat sama sekali tidak terlihat pada peristiwa itu. Yang terlihat hanyalah arogansi, tidak seperti citra manis dan baik hati yang ditampilkan di acara “86” NET TV. Oh, hampir saya lupa, dongeng layar kaca itu kan hanya rekayasa. 

Setelah sukses membubarkan aksi Perayaan Tubuh 2016, sepertinya polisi masih belum puas. Ketika para seniman, aktivis dan penonton sudah pulang ke tempatnya masing-masing, ternyata tidak dengan Wanggi. Dengan perasaan yang masih resah karena pembubaran, Wanggi, yang bertubuh kecil itu, dibawa paksa oleh dua orang intelejen ke dalam mobil Alphard. Hingga sampailah Wanggi ke kantor polisi, dan diinterogasi terkait acara yang dibubarkan tersebut. Wanggi dan kumisnya benar-benar mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari om-om polisi. 

Peristiwa itu hanyalah segelintir intimidasi terhadap Wanggi. Masih banyak lagi yang lain, tentu akan sangat panjang jika diceritakan di sini. Sampai saat ini pun perlakuan tidak menyenangkan terhadap Wanggi masih terjadi. Ponsel Wanggi, yang bertipe sederhana dan saya yakin jaringannya belum 4G, sering mengadat gara-gara terlalu banyak telepon dan sms masuk yang tidak jelas sumbernya. Kebanyakan, isinya meneror Wanggi supaya berhenti beraksi.

Selain itu, tidak terhitung berapa kali Wanggi disambangi orang-orang tak jelas saat Aksi Kamisan. Ada yang langsung mengaku dari kepolisian, ada pula yang menyamar menjadi ini-itu. Intinya sama: mereka tidak suka perlawanan dan penuntutan yang Wanggi lakukan terhadap pemerintah! Mereka juga tidak suka jika kasus kekerasan HAM selama ini—yang melibatkan para jenderal dan pejabat negara—terus digaungkan dan menolak dilupakan.

Saya tidak mengerti mengapa aparat bisa separanoia itu terhadap Wanggi. Apakah karena semangat Wanggi dalam memperjuangkan hak para korban membuat pemerintah gerah? Atau karena aksi pantomim Wanggi mengandung ancaman bagi NKRI? Atau jangan-jangan, kumis wanggi yang seperti Stalin itu dianggap bisa membangunkan paham komunisme? Kalau benar begitu, om-om aparat, saya sarankan kalian ganti profesi saja jadi peternak undur-undur. 

Menanggapi hal ini, polisi sering bilang dalam berbagai pencitraannnya, termasuk dengan slogan “Turn Back Crime” dan lain-lain, bahwa usaha yang dilakukan merupakan langkah modern dan strategis untuk diterapkan. Duh, kalau saya sih jadi ingin ketawa medengarnya. Menurut saya, lagkah represif yang dilakukan itu malah mengembalikan Indonesia ke zaman kolonial! Zaman penjajahan!

Saya jadi teringat kepada sosok Jacques Pangemanann, tokoh di tetraloginya Pramoedya Ananta Toer. Pangemanann adalah polisi pribumi yang naik jabatan lalu gila jabatan. Hobinya mabuk dan main perempuan. Dia ditugaskan untuk mengawasi warga pribumi yang dianggap berbahaya bagi Gubermen, entah karena berliterasi, ataupun berorganisasi. Pangemanann menempatkan Minke, Siti Soendari, Marco dan para penggerak lainnya seolah-olah berada dalam rumah kaca, yang bisa dipantau dengan jelas. Tujuannya: menekan para pemuda yang punya semangat perubahan!

Kalau mencocokkan Pangemanann dengan polisi zaman sekarang, saya rasa mereka cocok secocok-cocoknya. Tentu dalam segi represif dan menuruti kemauan atasannya. Kalau soal doyan mabuk dan main perempuan sih, saya tidak menjamin mereka cocok. Mungkin polisi sekarang lebih parah. 

Kemudian, yang ingin saya kritisi dari terjajahnya Wanggi di rumah sendiri, di Kota Kembang yang sedang genit-genitnya, adalah slogan Bandung Kota HAM yang palsu! Karena, mungkin Anda juga pernah degar, kalau Kota Bandung pada tahun lalu mendeklarasikan diri sebagai Kota Ramah HAM. Namun sayang, daripada mengurusi perkara HAM, sepertinya Wali Kota Bandung lebih senang bikin taman dan main Instagram. 

Pemerintah sepertinya menganggap Aksi Kamisan Wanggi dan rekan-rekan seperti nyanyian katak di musim hujan: terdengar tapi masa bodoh. Beginilah nasib di kotanya Wanggi. Gubernurnya sibuk mengurusi ormas, wali kotanya sibuk menggenjot pupolaritas, dan polisinya gampang panik saat bertugas.

Wahai Wanggi, tetaplah melawan dalam aksi bisumu itu. Kau selalu mejadi yang terdepan menyuarakan hak-hak Widji Thukul, Munir, Marsinah, Udin dan para korban yang lain. Maka itu, kami pun akan ada pada setiap gerak pantomim dan semangatmu. 

Teruslah kau Kamisan dan kumisan, Wanggihoed! 

-----

Ditulis berdasarkan data rekan-rekan wartawan, hasil obrolan langsung dengan Wanggi, dan atas nama keresahan untuk bersuara. (Foto: Agvi Firdaus)

Aku punya teman, tapi bukan sepermainan, karena itu lagunya Mbak Maya waktu masih akur sama Mas Dhani. Tahu mereka, kan? Itu lho, yang suka mengaku-aku jadi orang tuaku. Temanku ini bukan orang Banten karena tidak kebal, juga bukan orang Bogor karena bukan pawang hujan. Dia warga asli Minessota, Amerika Serikat, tempat aku belajar main karambol waktu masih balita dulu. 

Temanku itu bernama Jeremy Johansen. Ingat, Johansen ya, bukan Teti, karena dia bukan presenter. Umurnya 24 tahun, dan tidak bisa bahasa Indonesia. Tiga kata yang dia bisa adalah terimakasih, sama-sama, dan bagus. Selebihnya, dia berbahasa kaumnya, yang aku juga suka bengong kalau dia bicara panjang lebar. Tapi kupaksakan harus mampu berkomunikasi dengan dia. Kenapa? Biar aku tahu, saat di mana dia lapar, dan saat dia ingin boker. Bahaya kalau terjadi salah paham di antara kami. Nanti kalau dia busiat, kamu mau tanggung jawab? Pasti tidak. 

Kami bertemu di depan indekos, sekitar pukul sembilan pagi, pada tanggal 7 Mei lalu. Waktu itu hari Sabtu. Aku yang belum mandi dan wisuda sempat bingung, karena jarang-jarang ada bule main ke tempatku. Daripada heran, aku beranikan kenalan dengan dia, tapi pakai bahasa Sunda. 

“Orang mana yeuh? Umi nyangu can?” 

Dia bengong, entah tidak mengerti, entah terpesona. 

Oh, benar dugaanku, dia tidak mengerti bahasa Sunda. Baiklah, aku coba pakai bahasa yang pasaran di dunia ini. 

“Hello, My name is Adam, ei-di-ei-em, what is your name, my friend?”

“Hai, Im Jeremy, nice to meet you, Adam”

Sebetulnya saat itu aku ingin ketawa. Kukira dia bilang jerami. 


Lalu setelah mukadimah yang kaget itu, obrolan kami sedikit cair meski terbata-bata. Aku maklumi, mungkin karena habis menempuh perjalanan jauh, dia terlihat gugup berbincang denganku. Atau mungkin level bahasa Inggrisku yang masih iqro, ya? Siapa tahu.

Dari percakapan dengan Jeremy waktu itu, ada beberapa informasi yang bisa kuperoleh: dia belum pernah makan seblak tulang sampai mencret, dia belum pernah selfie di terowongan Nagreg, dan belum pernah dimarahi Pak Enjang Muhaemin. Oh ya, Pak Enjang itu dosen favoritku di kampus. 

Tapi, ada beberapa informasi penting yang juga kudapat. Pertama, dia tertarik dengan dunia otomotif. Kedua, dia datang ke Bandung dengan pacarnya, yang asli orang Bogor. Ketiga, dia mengajakku mendaki ke Papandayan. Berhubung saat itu tidak ada jadwal di kantor, aku sanggupi permintaan Jeremy: mengantarnya naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. 

Baiklah Jeremy, aku siap-siap dulu, tunggu sebentar, jangan pergi-pergi ke jalan raya karena sedang musim begal. 

-----

Ternyata, Jeremy itu sudah ada sejak semalam. Aku tidak tahu, karena habis mengisi workshop adu muncang di Republik Kongo. Jadi ceritanya begini:

Jeremy adalah warga Paman Sam yang sedang berlibur ke Jawa Barat. Dia punya pacar, (((punya pacar))) namanya Tyas, yang orang Cibinong, Bogor, itu. Tyas merupakan temannya Ati, yang sama indekosnya denganku. Tyas juga bekerja di bidang travel, tapi bukan sebagai kondektur yang nempel di pintu mobil seperti ELF jurusan Cicaheum-Cikajang. Tyas perempuan yang ramah dan baik bahasa Inggrisnya. 

Jeremy dan Tyas sudah pacaran tiga tahun. Kok bisa ya? Mau tahu? Baik, begini ceritanya:

Tyas punya teman perempuan. Teman Tyas dan Jeremy sudah lebih dulu berteman di Facebook. Entah bagaimana ceritanya Jeremy jatuh hati pada temannya Tyas. Lalu, Tyas berperan sebagai penghubung Jeremy dalam rangka mendekati teman Tyas. Singkat cerita, karena Jeremy banyak berbagi pengalaman dengan Tyas, akhirnya Jeremy suka sama Tyas, dan Tyas juga suka Jeremy, dan aku belum ada yang suka. Maaf. Maka setelah itu, Jeremy dan Tyas akhirnya pacaran. Tamat. 

Jadi, sudah sejak malam Jeremy ada di indekosku di daerah Gang Kujang, Cipadung, Cibiru, Kota Bandung itu. Kau tahu apa yang Jeremy kerjakan dengan temanku di sana? Bukan, bukan latihan marawis. Jeremy dan Panca, Rio, Faiz dan Ati, mereka bermain gaple. Kata Panca, Jeremy tampak senang dan nyaman, seolah-olah lupa kalau sedang berada di belahan dunia lain, yang sangat jauh dari rumahnya. 

Kata Panca lagi, sejak malam itu, Jeremy suka sekali beli makanan yang pakai saus kacang. Semacam batagor, sate, Bunga Citra Lestari, oh maaf, kalau itu film Saus Kacang, dan makanan lainnya. Entah karena di Amerika tidak ada makanan seperti itu, jadi Jeremy banyak makan saus kacang, atau supaya tidak dikacangin sama teman-teman. Iya. 

Jeremy, kata Panca, tertawa lepas dengan humor-humor bahasa Sunda yang Jeremy sama sekali tidak mengerti maknanya. Paham tidak paham asal ketawa. Jeremy pria baik, jadilah seperti Jeremy. 

Maka pada malam yang akrab itulah mereka merencanakan untuk mendaki Papandayan besok harinya. “Jeremy ingin lihat edelweis,” kata Faiz. Setelah lelah main gaple, lalu mereka tidur dengan cara masing-masing. 

-----

Sekitar jam satu siang, hari Sabtu, kami berangkat. Jeremy tidak naik motor matic, karena kakinya kepanjangan. Dia naik motor yang lebih besar, dengan Faiz, yang juga besar. Kami tiba di pos masuk Gunung Papandayan pukul tiga sore. Oh ya, informasi untuk kamu, siapa tahu mau bawa teman WNA ke Papandayan, harga tiketnya lebih mahal berkali-kali-kali lipat. Harus dipersiapkan. Kalau tidak punya uang banyak, bilang saja ke tukang tiket, bahwa temanu yang WNA itu naturalisasi yang KTP-nya masih ditahan Pak RT, atau bilang kalau dia keponakannya Haji Umuh. Selesai perkara. 

Ini kali pertama Jeremy mendaki gunung. Entah kalau gunung yang lain. Gunung Agung maksudnya, itu, toko buku di Bandung Indah Plaza. Tapi, jujur, aku salut lihat dia yang semangat dan mengayomi pacarnya yang kadang repot untuk melangkah. Kalau sudah begini, sepertinya bagi Jeremy, lelah ribuan kilometer sirna ketika tiada lagi jarak yang membatasi antara dirinya dan kekasih hatinya. Jos.

Sepanjang jalan, aku tidak banyak berbincang dengan Jeremy, karena untuk napas pun susah. Aku tidak mau mengalami gangguan pernapasan dan diberi napas buatan oleh si Panca. Tapi sesekali aku dan Jeremy membuat obrolan singkat. Seperti saat kutanya, “Enak mana, Jer, naik gunung atau mocelan budug?” 

Jeremy tidak jawab, karena aku juga tidak jadi tanya itu. Soalnya aku lupa apa bahasa Inggrisnya budug. Setelah sekitar sekian jam, kami sampai di tempat bekemah, dan Jeremy langsung minta diantar ke kamar mandi. Untungnya, di Gunung Papandayan sudah tersedia kamar mandi yang nyaman, meski belum dilengkapi wi-fi. 

Setelah Jeremy selesai buang hajat, ada perdebatan kecil antara aku dan tukang jaga kamar mandi. 

“Ini kenapa cuman dua ribu A? Kurang tiga ribu lagi,” kata si tukang.

“Memang dua ribu kan, Pak? Yang lain juga dua ribu,”

“Iya, yang lain itu bukan bule,”

“Kalau bule kenapa, Pak”

“Ya harus ada lebihnya,”

“Kan yang dibuang juga sama pak, bentuknya juga gak jauh beda sama warga lokal?”

“Harus bayar lebih pokoknya, A. Kalau tidak bayar lebih, silakan diambil lagi barang si bule”

Oke, kalau diancam seperti itu, aku menyerah.

Akhirnya setelah melakukan negosiasi lebih lanjut, aku jadi bayar tiga ribu untuk Jeremy, dan si Bapak tukang jaga kamar mandi itu akhirnya berkenalan denganku. Lalu selanjutnya kami mengobrol, dan selanjutnya lagi, Jeremy jadi bayar dua ribu. 

Ini diplomasi yang penting. Karena, kuhitung, tak kurang dari tujuh kali Jeremy mondar-mandir tenda-kamar mandi untuk buang hajat. Ternyata, setelah aku melakukan perundingan terbatas dan rahasia dengan Panca, kami menduga, Jeremy sakit perut karena terlalu banyak makan saus kacang. 

Untung saja aku sudah bernegosiasi dengan penjaga kamar mandi. Jadi kami bisa menghemat uang tujuh ribu rupiah, yang kalau dibelikan ikan cupang bisa dapat dua, lalu diternak dan beranak-pinak. Pencapaian diplomasi yang luar biasa, bukan? Tidak perlu tepuk tangan. 

Lalu kami semua menikmati alam Papandayan. Bernyaman-nyaman di Pondok Saladah, berfoto ria di Hutan Mati, dan berencok ria pula saat turun kembali. Banyak hal yang bisa kami bagi dalam perjalanan itu. Jeremy belajar kekayaan alam dan budaya tanah Sunda; Tyas bertamasya dengan pacar dan temannya; Panca dan Rio senang berkenalan dengan Jeremy; aku senang karena tidak sedih, dan teman-teman yang lain punya cara untuk merayakan kesenangannya masing-masing. 

Kemudian kami kembali dengan selamat dan lapar.

Pada hari Senin, sehari setelah pulang dari Papandayan, Jeremy dan Tyas berpamitan dengan kami para penghuni Indekos Minajati. 

Selamat pulang, teman! Tetap berkabar melalui Instagram dan Facebook! Nanti kukabari kalau aku hendak main ke Minessota, dan akan kubawakan kau saus kacang yang kau rindukan itu. Sudah, selesai.

-----

Jadi, hikmah yang bisa diambil dari kisah ini adalah: LDR itu teralu banyak rindunya. Sekian.